by Mohammad Ali Wafa
BAB 11 Teori Jurnalistik & Broadcasting
Agenda Setting, Framing, dan News Values dalam Ekosistem Media Modern
Pendahuluan
Di era konvergensi media, batas antara jurnalisme dan broadcasting semakin cair. Media cetak bertransformasi menjadi portal digital, televisi menjadi platform streaming, dan radio hidup kembali melalui podcast. Dalam perubahan ini, teori-teori inti seperti Agenda Setting, Framing, dan News Values tetap menjadi fondasi yang menjelaskan bagaimana media membentuk persepsi publik, mengarahkan perhatian masyarakat, serta mempengaruhi pembentukan opini dan realitas sosial.
Bab ini membahas secara mendalam teori-teori tersebut, relevansinya pada ekosistem media digital, serta bagaimana jurnalis, broadcaster, dan kreator konten mengaplikasikannya dalam praktik.
Bagian 1 – Agenda Setting Theory
1. Pengertian dan Konsep Dasar
Agenda Setting merupakan teori yang menyatakan bahwa media tidak selalu “menentukan apa yang harus dipikirkan publik”, tetapi “menentukan apa yang harus dipikirkan publik tentang apa”. Artinya, media mengatur prioritas isu.
Kata
kuncinya:
media tell us what to think about.
Asal-usul teori:
- Dikembangkan oleh Maxwell McCombs & Donald Shaw melalui penelitian pada Pemilu AS 1972.
- Menemukan kesesuaian antara isu yang disorot media dan isu yang dianggap penting oleh publik.
2. Tingkatan Agenda Setting
• Level 1: Issue Salience
Media mengarahkan perhatian pada isu, misalnya ekonomi, kesehatan, politik.
• Level 2: Attribute Agenda Setting (Framing precursor)
Media bukan hanya menonjolkan isu, tetapi menonjolkan aspek tertentu dari isu tersebut. Contoh: Isu “kebakaran hutan” → atribut yang disorot bisa “asap”, “pelaku pembakaran”, “kerugian ekonomi”.
• Level 3: Network Agenda Setting
Media menghubungkan berbagai isu dan atribut menjadi jaringan makna (media meaning-making network).
3. Agenda Setting di Era Digital
Perubahan yang memengaruhi teori:
- Algoritma menggeser peran redaksi.
- Viralitas menjadi faktor baru dalam menonjolkan isu.
- Social media influencer berperan sebagai “agenda setter baru”.
- Fragmentasi media membuat agenda publik lebih bervariasi.
Konsep baru: Algorithmic Agenda Setting. Algoritma platform seperti TikTok, X/Twitter, Instagram mengangkat isu tertentu berdasarkan engagement, bukan berdasarkan editorial.
4. Studi Kasus Agenda Setting
Studi Kasus 1: Pemilu Indonesia
Isu ekonomi, bansos, dan korupsi menjadi puncak perhatian karena disorot berulang di TV dan media online.
Studi Kasus 2: Isu Kesehatan Selama Pandemi
Media menjadi pusat agenda setting untuk isu: masker, vaksin, protokol kesehatan, angka kasus harian.
Bagian 2 – Framing Theory
1. Pengertian Framing
Framing adalah teknik media dalam membingkai realitas sehingga makna tertentu ditonjolkan dan lainnya disembunyikan.
Konsep dasar: Media tidak hanya memberitakan fakta, tetapi mengonstruksi makna melalui cara menulis, memilih narasumber, memilih angle, serta cara menempatkan informasi.
Dikembangkan oleh:
- Erving Goffman (frame analysis)
- Entman (seleksi & penonjolan elemen informasi)
2. Elemen Framing versi Entman
• Define Problems
Menentukan masalah utama. Contoh: “Kemiskinan meningkat karena pengelolaan ekonomi buruk.”
• Diagnose Causes
Menentukan penyebab. Contoh: “Kebijakan pemerintah tidak tepat.”
• Make Moral Judgement
Menentukan penilaian moral. Contoh: “Kebijakan ini membahayakan rakyat.”
• Suggest Remedies
Memberikan solusi. Contoh: “Perlu reformasi ekonomi.”
3. Teknik Framing dalam Jurnalisme
- Pemilihan angle berita
- Pemilihan narasumber pro atau kontra
- Penempatan paragraf awal (lead)
- Pemilihan visual atau potongan video
- Penggunaan judul (headline bias)
- Penghilangan atau penambahan konteks
- Penggunaan metafora bahasa
4. Framing dalam Broadcasting
Dalam TV dan radio, framing lebih kuat karena melibatkan:
- pilihan footage
- editing
- tone announcer
- cara host mengarahkan narasumber
- pemilihan background visual
5. Studi Kasus Framing
Kasus 1: Pemberitaan Demonstrasi Mahasiswa
- Media A: “Ribuan mahasiswa menuntut keadilan.”
- Media B: “Aksi mahasiswa ricuh, merusak fasilitas umum.”
Frame berbeda → realitas publik berbeda.
Kasus 2: Konflik Palestina–Israel
- Media mainstream Barat berbeda framing dari media Timur Tengah.
- Isu kemanusiaan vs. isu keamanan.
Bagian 3 – News Values (Nilai Berita)
1. Pengertian News Values
News values adalah seperangkat kriteria yang menentukan apakah suatu peristiwa layak diberitakan.
2. Standar News Values Umum
• Timeliness (Kebaruan)
Berita harus baru, cepat, terkini.
• Proximity (Kedekatan)
Semakin dekat dengan pembaca–pendengar–penonton, makin penting.
• Impact (Dampak)
Semakin besar pengaruh peristiwa terhadap publik, semakin bernilai berita.
• Prominence (Tokoh Penting)
Keterlibatan tokoh terkenal meningkatkan nilai berita.
• Conflict
Konflik selalu menarik: politik, selebriti, dakwah, ekonomi.
• Human Interest
Cerita menyentuh hati, inspiratif, atau emosional.
• Oddity / Unusualness
Peristiwa unik, aneh, tidak biasa.
3. News Values dalam era digital
Konsep tambahan:
- Viral value → potensi viral di medsos
- Shareability → mudah dibagikan
- Clickability → judul menarik
- Visual value → kuat secara visual (video, foto)
News values kini dipengaruhi algoritma dan engagement.
4. Penerapan News Values pada Broadcasting
Televisi menekankan:
- visual dramatis
- footage kuat
- suara langsung (live report)
- naskah yang ringkas dan padat
Radio/podcast menekankan:
- kekuatan storytelling suara
- efek suara
- gaya penyampaian announcer
Bagian 4 – Integrasi Agenda Setting, Framing & News Values
Ketiga teori ini saling berkaitan:
- News values menentukan apa yang diberitakan.
- Agenda setting menentukan isu mana yang diprioritaskan.
- Framing menentukan bagaimana isu dipahami.
Dalam ekosistem digital:
- Influencer dapat mengatur agenda
- Media sosial dapat mengalahkan media mainstream
- Framing mudah dimanipulasi melalui potongan video pendek
- News values berubah mengikuti algoritma platform
Bagian 5 – Studi Kasus Komprehensif
Kasus 1 – Tragedi Kanjuruhan
Analisis:
- Agenda setting: isu keselamatan stadion, polisi, suporter
- Framing media A: “kelalaian panitia”
- Framing media B: “kericuhan suporter”
- News values: human interest, conflict, prominence
Kasus 2 – Fenomena Citayam Fashion Week
- Agenda setting: urban culture
- Framing: fenomena kreatif vs. kerumunan yang mengganggu
- News values: oddity, viral value, human interest
Kasus 3 – Konten Hoaks & Isu Politik
- Agenda setting: hoaks menggeser fokus isu publik
- Framing: dikemas sesuai kepentingan politik
- News values: conflict + viral value