12 November 2025

Isu Komunikasi Umum dan Teoritis: Politik, Antarbudaya, Gender, dan Cultural Studies

 By Mohammad Ali Wafa

Bab 7 Isu Komunikasi Umum dan Teoritis

Komunikasi Politik, Antarbudaya, Gender, dan Cultural Studies di Era Global Digital


7.1 Pendahuluan: Komunikasi sebagai Fenomena Sosial dan Budaya

Komunikasi bukan sekadar proses penyampaian pesan,
tetapi merupakan proses produksi makna di antara individu dan kelompok.
Ia membentuk realitas sosial, memperkuat identitas, dan mengarahkan kekuasaan. Dalam ilmu komunikasi, wilayah “umum dan teoritis” membahas konsep lintas bidang mulai dari teori politik, budaya, hingga gender dan kekuasaan. Era digital menambah kompleksitas karena batas ruang dan waktu hilang. “Komunikasi adalah kekuasaan. Siapa yang mengendalikan makna, ia mengendalikan dunia.”

7.2 Komunikasi Politik: Simbol, Kekuasaan, dan Publik Digital

7.2.1 Hakikat Komunikasi Politik

Komunikasi politik adalah proses penyampaian pesan politik dari aktor politik kepada publik melalui media. Ia membentuk persepsi, opini, dan legitimasi kekuasaan. Fungsi utamanya:

  1. Membentuk citra politik (political branding)
  2. Mengarahkan opini publik (agenda setting)
  3. Membangun partisipasi dan dukungan (mobilisasi sosial)

7.2.2 Era Digital dan Politik Simbolik

Media sosial mengubah lanskap politik menjadi politik visual dan simbolik. Foto, meme, dan video lebih berpengaruh daripada pidato panjang. Politisi tidak hanya berbicara kepada rakyat, tetapi berinteraksi langsung melalui like, retweet, dan comment. Fenomena ini disebut politainment — politik yang dikemas sebagai hiburan. Muncul figur politik berbasis personal branding seperti:

  • Jokowi dengan kesederhanaan dan blusukan,
  • Sandiaga Uno dengan gaya wirausaha muda,
  • Ganjar Pranowo dengan citra digital aktif.

“Kampanye kini bukan perang ide, tapi perang narasi dan citra.”

7.2.3 Studi Kasus: Pemilu dan Media Sosial

Dalam Pemilu 2019 & 2024, media sosial menjadi arena utama:

  • Twitter dan TikTok memicu echo chamber politik,
  • YouTube digunakan untuk kampanye visual,
  • WhatsApp menjadi medium disinformasi dan hoaks.

Tantangan akademik: bagaimana komunikasi politik menjaga etika publik dan literasi demokrasi?

7.3 Komunikasi Antarbudaya: Identitas, Adaptasi, dan Konflik

7.3.1 Hakikat Komunikasi Antarbudaya

Komunikasi antarbudaya terjadi ketika dua individu dengan latar budaya berbeda berinteraksi. Fokus kajiannya: perbedaan persepsi, simbol, dan nilai. Di dunia global, kemampuan antarbudaya menjadi kompetensi penting bagi diplomat, pebisnis, dan aktivis sosial.

Model klasik dari Gudykunst & Kim menekankan tiga hal:

  1. Kesadaran perbedaan budaya,
  2. Empati dan adaptasi,
  3. Keterbukaan dan negosiasi makna.

7.3.2 Era Global dan Hibriditas Budaya

Media digital menciptakan fenomena cultural hybridization
identitas budaya bercampur antara lokal dan global.
Contoh:

  • Musik dangdut remix K-pop,
  • Santri influencer memakai gaya bahasa gaul,
  • Pesan dakwah dalam format meme dan podcast.

“Budaya digital bukan sekadar globalisasi, tetapi pertemuan dan negosiasi identitas.”

7.3.3 Studi Kasus: Diplomasi Budaya Indonesia

Kementerian Luar Negeri RI menggunakan media sosial untuk promosi budaya Indonesia. Program seperti Wonderful Indonesia dan Indonesian Diaspora Network menjadi strategi komunikasi antarbudaya global.

7.4 Komunikasi Gender: Representasi dan Kesetaraan

7.4.1 Teori dan Perspektif

Komunikasi gender mengkaji bagaimana identitas laki-laki dan perempuan dibentuk dan direpresentasikan dalam media dan wacana sosial. Pendekatan utama:

  1. Feminisme liberal – fokus pada kesetaraan akses.
  2. Feminisme radikal – kritik terhadap sistem patriarki media.
  3. Feminisme postmodern – dekonstruksi identitas gender dalam simbol.

7.4.2 Isu Representasi Gender di Media

Media sering kali memperkuat stereotip:

  • Perempuan digambarkan sebagai objek visual,
  • Laki-laki sebagai simbol kekuasaan,
  • Minoritas gender tidak mendapat ruang representasi.

Namun di era media sosial, muncul narasi tandingan (counter-narratives):

  • Influencer perempuan yang berbicara soal karier dan pendidikan,
  • Gerakan #MeToo dan #PerempuanBersuara di Indonesia,
  • Diskusi gender di ruang digital pesantren.

“Media yang adil gender bukan hanya memberi ruang bicara, tapi juga mendengar dengan hormat.”

7.4.3 Studi Kasus: Iklan dan Gender

Contoh iklan sabun atau kosmetik sering menggunakan tubuh perempuan sebagai daya tarik. Namun kini mulai bergeser ke iklan pemberdayaan, seperti “Dove Real Beauty” atau kampanye Tokopedia Women in Tech.

7.5 Cultural Studies: Makna, Ideologi, dan Resistensi

7.5.1 Latar Teoretis

Cultural Studies (Kajian Budaya) lahir dari pemikiran Stuart Hall dan Birmingham School. Pendekatan ini menolak pandangan bahwa media hanya alat informasi, melainkan arena pertarungan makna dan ideologi. Konsep kunci:

  • Encoding / Decoding (Stuart Hall): Pesan media tidak diterima secara pasif, tetapi diinterpretasikan sesuai latar sosial penonton.
  • Hegemoni (Gramsci): Kekuasaan bekerja lewat persetujuan budaya, bukan paksaan.

7.5.2 Isu Kontemporer: Budaya Pop dan Identitas

Budaya pop menjadi cermin politik identitas modern. Musik, film, dan meme mencerminkan resistensi terhadap kekuasaan dominan. Contoh:

  • Meme politik sebagai bentuk kritik,
  • Film Indonesia yang mengangkat isu gender dan agama (misalnya Kucumbu Tubuh Indahku),
  • YouTuber yang mengubah budaya konsumsi informasi.

“Cultural Studies mengajarkan bahwa tidak ada budaya yang netral — semua mengandung ideologi.”

7.6 Refleksi Akademik

Bidang komunikasi umum dan teoritis membekali mahasiswa dengan:

  1. Kemampuan analisis kritis terhadap media dan kekuasaan.
  2. Pemahaman lintas budaya dan gender dalam komunikasi global.
  3. Kepekaan etis terhadap keberagaman identitas.

“Ilmu komunikasi sejati bukan hanya tentang berbicara, tetapi tentang memahami manusia dan maknanya.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar